Menilai Mutu Pendidikan di Jepang
Ujian itu perlu atau tidak?
Pertanyaan ini selalu menjadi polemik di negara manapun antara memilih melaksanakannya atau tidak, atau me-nasionalkannya or me-lokalkannya.
Sistem ujian/ulangan sekolah2 di Jepang menarik untuk kita cermati. Pendidikan dasar (shougakkou) tidak mengenal ujian kenaikan kelas, tetapi siswa yang telah menyelesaikan proses belajar di kelas satu secara otomatis akan naik ke kelas dua, demikian seterusnya. Ujian akhir pun tidak ada, karena SD dan SMP masih termasuk kelompok compulsoy education, sehingga siswa yang telah menyelesaikan studinya di tingkat SD dapat langsung mendaftar ke SMP.
Lalu bagaimana menilai mutu pendidikan ?
Tentu saja guru tetap melakukan ulangan sekali2 untuk mengecek daya tangkap siswa. Dan penilaian ulangan pun tidak dengan angka tetapi dengan huruf : A, B, C, kecuali untuk matematika. Dari kelas 4 hingga kelas 6 juga dilakukan test IQ untuk melihat kemampuan dasar siswa. Data ini dipakai bukan untuk mengelompokkan siswa berdasarkan hasil test IQ-nya, tetapi untuk memberikan perhatian lebih kepada siswa dengan kemampuan di atas normal atau di bawah normal. Perlu diketahui, siswa2 di Jepang tidak dikelompokkan berdasarkan kepandaian, tetapi semua anak dianggap `bisa` mengikuti pelajaran, sehingga kelas berisi siswa dengan beragam kemampuan akademik.
Compulsory Education di Jepang dilaksanakan dengan prinsip memberikan akses penuh kepada semua anak untuk mengenyam pendidikan selama 9 tahun (SD dan SMP) dengan menggratiskan tuition fee, dan mewajibkan orang tua untuk menyekolahkan anak (ditetapkan dalam Fundamental Law of Education). Untuk memudahkan akses, maka di setiap distrik didirikan SD dan SMP walaupun daerah kampung dan siswanya minim (per kelas 10-11 siswa). Orang tua pun tidak boleh menyekolahkan anak ke distrik yang lain, jadi selama masa compulsory education, anak bersekolah di distrik masing2. Tentu saja mutu sekolah negeri di semua distrik sama, dalam arti fasilitas sekolah, bangunan sekolah, tenaga pengajar dengan persyaratan yang sama (guru harus memegang lisensi mengajar yang dikeluarkan oleh Educational Board setiap prefecture). Oleh karena itu mutu siswa SD dan SMP di Jepang yang bersekolah di sekolah negeri dapat dikatakan `sama`, sebab Ministry of Education menkondisikan equality di semua sekolah. Saat ini tengah digalakkan program reformasi yang memberi kesempatan kepada sekolah untuk berkreasi mengembangkan proses pendidikannya, tetapi tetap saja dalam pantauan MOE.
Di tingkat SMP dan SMA, sama seperti di Indonesia, ada dua kali ulangan, mid test dan final test, tetapi tidak bersifat wajib atau pun nasional. Di beberapa prefecture yang melaksanakan ujian, final test dilaksanakan serentak selama tiga hari, dengan materi ujian yang dibuat oleh sekolah berdasarkan standar dari Educational Board di setiap prefektur. Penilaian kelulusan siswa SMP dan SMA tidak berdasarkan hasil final test, tapi akumulasi dari nilai test sehari2, ekstra kurikuler, mid test dan final test. Dengan sistem seperti ini, tentu saja hampir 100% siswa naik kelas atau dapat lulus.
Selanjutnya siswa lulusan SMP dapat memilih SMA yang diminatinya, tetapi kali ini mereka harus mengikuti ujian masuk SMA yang bersifat standar, artinya soal ujian dibuat oleh Educational Board di setiap prefektur. Di Aichi prefecture, SMA-SMA dikelompokkan dengan pengelompokan A, B. Pengelompokan tersebut dibuat dalam proses memilih SMA. Setiap siswa dapat memilih satu sekolah di kelompok A dan satu sekolah di kelompok B. Jika si siswa lulus dalam kelompok A, maka secara otomatis dia gugur dari kelompok B. Dalam memilih SMA, siswa berkonsultasi dengan guru, orang tua atau disediakan lembaga khusus di Educational Board yang bertugas melayani konsultasi dalam memilih sekolah. Ujian masuk pun hampir serentak di seluruh jepang dengan bidang studi yang sama yaitu, Bahasa Jepang, English, Math, Social Studies, dan Science. Di level ini siswa dapat memilih sekolah di distrik lain.
Seperti dipaparkan di atas, siswa SMA tidak mengikuti ujian kelulusan secara nasional, tetapi ada beberapa prefecture yang melaksanakan ujian. Penilaian kelulusan siswa berbeda di setiap prefecture. Mengingat angka Drop out siswa SMA meningkat di tahun 1990-an, maka beberapa sekolah tidak mengadakan ujian akhir, jadi kelulusan hanya berdasarkan hasil ujian harian.
Untuk masuk universitas, siswa lulusan SMA diharuskan mengikuti ujian masuk universitas yang berskala nasional. Ini yang dianggap `neraka` oleh sebagian besar siswa SMA. Sebagian dari mereka memilih untuk belajar di juku (les privat, seperti di Indonesia) untuk dapat lulus ujian masuk universitas. Ujian masuk PT dilakukan dua tahap. Pertama secara nasional- soal ujian disusun oleh Ministry of education, terdiri dari lima subject, sama seperti ujian masuk SMA-, selanjutnya siswa harus mengikuti ujian masuk yang dilakukan masing2 universitas, tepatnya ujian masuk di setiap fakultas. Skor kelulusan adalah akumulasi ujian masuk nasional dan ujian di setiap PT. Seperti halnya di Indonesia, skor hasil UMPTN tidak diumumkan, tetapi jawaban ujian diberitakan via koran, TV atau internet, sehingga siswa dapat mengira2 sendiri berapa total score yg didapat. Siswa yang memilih Universitas dg skor tinggi, tapi ternyata skornya tidak memdai, dapat mengacu ke pilihan universitas ke-2. Namun jika skornya tidak mencukupi, maka siswa tidak dapat masuk Universitas. Selanjutnya dia dapat mengikuti ujian masuk PT swasta atau menjalani masa ronin (menyiapkan diri untuk mengikuti ujian masuk di tahun berikutnya) di prepatory school (yobikou)
Penilaian mutu pendidikan di Jepang, dengan kata lain dilakukan dengan menstandarkan ujian masuk SMA dan PT, tentu saja sistem ini bisa berjalan karena pemerintah di Jepang pun berusaha maksimal untuk menyamakan kondisi public education-nya, dalam arti menyediakan infra struktur yang sama untuk setiap jenjang pendidikan di daerah.
Saat ini gaung autonomy daerah makin kencang di Jepang, seberapa besar tarik ulur antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam sektor pendidikan menjadi salah satu pengamatan yang menarik bagi saya pribadi. Nuansa kebebasan untuk mengembangkan pendidikan berdasarkan potensi dan karakter daerah sangat kental terlihat ketika saya mengunjungi sekolah-sekolah di Jepang.
Tulisan ini dan tulisan menarik lain tentang pendidikan di jepang dapat diakses di sini: Menilai Mutu Pendidikan
Jumat, 13 Agustus 2010
Menilai Mutu Pendidikan di Jepang
Diposting oleh dynkus di 18.39 0 komentar
Kamis, 03 Juni 2010
PROGRAM SEKOLAH

Dalam menciptakan pendidikan yang berkualitas perlu mengetahui potensi unsur pendidikan yang ada, dari potensi yang ada harus ditunjang manajemen yang bagus.
Sekilas penjabaran program melalui
Diposting oleh dynkus di 19.37 0 komentar
Label: opini
MEMBUKA KUNCI PERBAIKAN DIRI
Mengutip perkataan pujangga dan novelis asal Inggris bahwa” Setiap perubahan, meskipun untuk menuju hal yang lebih baik, selalu diiringi oleh keberatan dan kegelisahan.” (Arnold Bennett)
Sering kita lihat pengalaman pahit menjadi bagian yang tak dapat terpisahkan dalam kehidupan kita, misalnya tidak dihargai, dilecehkan, disakiti, kegagalan, fitnah dan lain sebaginya. Namun dari pengalaman yang terpahit sekalipun akan dapat menjadi titik tolak untuk mencapi kejayaan dan kebahagiaan jika dari dalam diri kita memilki kekuatan untuk memperbaiki secara terus menerus serta mengetahui apa yang terbaik dalam diri kita. Dan hal itu merupakan keuntungan yang sangat besar karena kita mampu membuka kunci kekuatan tersebut., namun semua ini tidak semudah kita membalikkan tangan sebab dari banyak hal yang kita ketahui baik dari referensi, pengalaman dan kesaksian-kesaksian maka hal ini harus kita upayakan dan saya berusaha!
Terdapat beberapa manfaat jika kita mau selalu memperbaiki diri antara lain:
# Mampu mengantisipasi kejadian buruk menimpa kita dapat saya misalkan jika kita tahu kebanyakan makan menimbulkan obesitas apa tidak sebaiknya kita mengurangi dari mulai sekarang.
# Mampu membawa kita untuk dapat lebih beradaptasi terhadap perubahan-perubahan kecil sekalipun, dapat kita misalkan dengan perubahan system pendidikan kita mencoba ikut memperbaiki diri sehingga tidak tergilas dengan kemajuan.
# Mampu memberi kita rasa percaya diri dan nyaman dengan keadaan diri sendiri (memiliki Nilai). Hal ini sering kita lihat dalam konteks posisi/jabatan, materi/social ekonomi, kehormatan dan masih banyak lagi. Misalkan saja sering kita melihat si A jadi artis atau pejabat dan kita berpendapat wah kalau saja Aku yang disana pasti enak, pada hal belum tentu mereka nyaman dengan keadaan mereka sendiri karena apa? Karena mereka berada dalam posisi itu hanya sebatas mengejar ambisi, popularitas, kehormatan dll, sehingga zat rasa percaya diri dan harapan kurang. Dan hal ini akan mengurangi rasa syukur terhadap apa yang ada dalam diri sendiri.
Dan rasa syukur bukan berarti berserah tapi mensyukuri yang kita punyai untuk di gali manfaatnya bagi semua yang ada dalam interaksi social kita sehimgga ada Nilai yang kita rasakan. Itulah perbaikan diri yaitu munculnya Nilai dari dalam diri kita bagi lingkungan kita.
Didalam kehidupan ini kita akan selalu mengalami yang namaya fluktuasi (naik turun) seperti perputaran roda. Namun setiap perubahan itu akan terasa menyakitkan jika kita mengabaikan keharusan untuk terus berbenah. Walaupun kemampuan memperbaiki diri sulit dimiliki, tetapi ada beberapa tips yang dapat membantu kita membuka kunci kekuatan perbaikan diri.
1. Miliki cita-cita dan komitmen untuk mencapainya, sebab cita-cita akan menjadi daya atau semangat juang bagi hidu kita. Sehingga kita tidak akan segan untuk memperbaiki kemampuan
2. Kegigihan, merupakan kata yang kuat untuk dilakukan yang berarti jangan mudah menyerah, mencoba dan mencoba adalah hal yang harus dilakukan untuk suatu perbaikan.
3. Mencintai diri sendiri, mengapa hal ini penting karena masing-masing orang memiliki keunikan sendiri baik kelebihan maupun kekurangan lupakan keingingan untuk menjadi orang lain, dengan meningkatkan kualitas diri, kemampuan dan KEBAIKAN. Dengan begitu, kekurangan kita tak akan lebih menonjol dibanding prestasi, kontribusi dan kemampuan yang kita miliki.
4. Motivasi diri sendiri, banyak motivator memberi motivasi tetapi semua berpulang pada individu itu sendiri, sebab perubahan besar berawal dari dalam diri dan jika tanpa adanya reaksi dari dalam diri maka aksi tidak akan nyata dalam parubahan diri.
Jadi ketika Anda sudah menikmati setiap proses memperbaiki diri, berarti Anda juga telah memiliki kemampuan menjadikan segala suatunya indah.
“Perubahan Diri Berarti jika ada kekuatan prinsip dalam Diri”
Diposting oleh dynkus di 19.37 0 komentar
Label: Artikel
REMEMBER THIS!!!!!
Wanita adalah:
1. Org yg akan mendampingimu seumur hidup.
2. Org yang akan melahirkn anak"mu.. Walau dengan penuh rasa sakit.
3. Orang yang merawatmu smp tua.
4. Orang yg akan merawatmu pd saat kau sakit.
5. Orang yg akan slalu mendukung walau kau gagal berpuluh" bahkan beratus" kali.
6. Orang yang memberikan hidupnya untukmu. Bahkan ia membuang egonya demi bersamamu. Bahkan saat kau mnyakitinya, ia tetap berada disampingmu..
Sedangkan,
Pria adalah..
1. Orang yang akan menjagamu seumur hidupmu.
2. Orang yang berkorban untukmu.
3. Orang yang menafkahimu.
4. Orang yang merawatmu pd saat kau sakit.
5. Orang yang memelukmu pada saat kau sedih.
6. Orang yang ingin membuatmu bahagia.
Mereka sama berharganya, hanya saja mereka mempunyai perbedaan" yang kadang membuat mereka menyakiti 1 sama lain, dan itu hanya dapat diatasi dengan pengertian dari kedua belah pihak.
Hidup itu singkat.. Trlalu singkat untuk berbagai pertengkaran.. Mengapa tidak kau bahagiakan saja pasanganmu, dan mengisi hari" kalian dengan penuh cinta, dan membuat pasanganmu trsenyum lebih lebar tiap harinya? Bukankah itu lebih baik dan bahagia dibanding saling menyakit.
Diposting oleh dynkus di 19.37 0 komentar
Label: Selingan