
John Maynard Keynes, 1883-1946.
John Maynard (JM) Keynes adalah seorang tokoh pemikir ekonomi dan keuangan Inggris. Dunia sejarah ilmu ekonomi semakin sempurna karena munculnya berbagai pemikiran mengenai ekonomi dan keuangan yang baru dari berbagai hasil pemikiran J.M, Keynes yang dinilai para ahli ekonomi sebagai ekonomi modern. Kemudian ia dikenal sebagai tokoh yang menyebabkan lahirnya mazhab baru yakni mazhab Keynes.
John Maynard Keynes dilahirkan di Cambridge, Inggris pada tanggal 5 Juni 1883. Kebetulan tahun kelahiran Keynes bertepatan dengan tahun wafatnya Karl Marx yang sangat terkenal itu. Walaupun demikian kedua tokoh pemikir ekonomi yang waktunya bersinggungan ini sangat berbeda pemikiran satu sama lainnya. Namun demikian keduanya banyak mempengaruhi filsafat sistem kapitalis. Dilihat dari sifat hidup Karl Marx, ia seorang pendendam, banyak mengalami kesulitan dalam hidup-hidupnya, pemurung dan kecewa, seperti diketahui ia adalah perencana “hancurnya Kapitalisme”. Sebaliknya Keynes, ia sangat mencintai kehidupan dan hidupnya selalu mewah, sering berbuat seenaknya. Ia benar-benar tokoh pemikir ekonomi yang berhasil menjadi “Arsitek Kapitalisme Yang Tahan Hidup”.
Keynes dibesarkan pada zaman Ratu Victoria. Pada waktu masih sekolah Keynes memang cemerlang. Ketika Keynes berusia empat setengah tahun ia sudah memikirkan arti bunga dilihat dari segi ekonomi. Pada umur enam tahun ia sudah ingin mengetahui bagaimana kerja otak manusia. Ketika Keynes berusia tujuh tahun, bagi ayahnya yang juga ahli ekonomi yang bernama John Neville Keynes yang juga terkenal, Keynes merupakan seorang teman yang menyenangkan sekali, Keynes sangat sayang kepada ibunya. Hal itu terungkap dari surat untuk ibunya pada tahun 1919 yang mengadukan soal kesedihannya dan keadaan yang kurang baik di lingkungannya, sebagai berikut “Rupanya sudah berminggu-minggu lamanya saya tidak menulis surat kepada siapapun juga, saya memang sangat penat, sebagian karena pekerjaan saya, sebagian karena merasa sangat sedih melihat begitu banyak kejahatan di sekitar saya. Belum pernah saya merasa begitu sedih seperti dalam dua atau tiga minggu terakhir ini. Perdamaian ini sifatnya begitu menghina dan begitu mustahil. Sehingga hanya akan membawa malapetaka.” Keynes mencurahkan segala isi hatinya dengan gaya manja kepada ibunya yang ia sayangi itu. Keynes wafat di Tilson, Sussex pada tanggal 21 April 1946. Ia memperoleh pendidikan di Eton dan King’s College, Cambridge.
Nama John Maynard Keynes adalah sebuah nama Inggris yang kuno. Dan hasil pengusutan mengenai asal usul tokoh pemikir ekonomi ini, sampai pada nama William de Cahagnes dan tahun 1066, ternyata Keynes ialah seorang tradisionalis. Kecakapan serta sifat-sifat baiknya diperoleh secara turun temurun. Ia menjadi dosen dalam mata kuliah ilmu ekonomi dan keuangan di cambridge. Keynes juga tercatat sebagai bendaharawan King’s College sejak tahun 1908 ia wafat. Di samping itu Keynes juga menjadi anggota Royal Cominision, sebagai Treasury (1915-1919) dan pada bulan Januari 1919 Ia menjadi utusan utama Inggris ke Konferensi Perdamaian Paris. Sebagai utusan konferensi itu, ia mengundurkan diri pada bulan Juni 1919. Pengunduran Keynes itu sebagai tindakan protesnya terhadap pasal perampasan dalam Perjanjian Versailles. Karena menurut Keynes bahwa dalam Perjanjian Versailles itu terdapat rangsangan yang tidak disadari untuk kebangkitan yang lebih hebat lagi dan militerisme dan autarki Jerman. Ternyata apa yang diutarakan Keynes menjadi kenyataan, karena dalam kurun waktu 20 tahun ramalan Keynes itu benar-benar menjadi kenyataan. Munculnya Gerakan Nazi Fasis di bawah Hitler menjadi dominan di Jerman sejak tahun 1933, dan pada akhir tahun 1939 meletuslah Perang Dunia II yang jauh lebih dahsyat dari peperangan-peperangan sebelumnya.
Keynes waktu itu berpendapat bahwa Konferensi Versailles itu sebagai suatu penyelesaian dendam politik tanpa perhitungan yang tidak mempedulikan masalah yang mendesak pada waktu itu, dan hanya akan menghidupkan kembali Eropa menjadi sebuah kesatuan yang lengkap serta berfungsi.
Keynes menikah dengan Lydia Lopokova, seorang penari balet.
Pada bulan Desember tahun 1919 itu pulalah Keynes menerbitkan bukunya yang berjudul The Economic Consequences of the Peace (Konsekuensi ekonomi dan perdamaian ) yang membuat Keynes terkenal.
Dan tahun 1921 sampai 1938 ia menjabat sebagai presiden komisaris dan National Mutual Life Assurance Society dan memimpin suatu perusahaan investasi.
Pada tahun 1936, Keynes menerbitkan lagi hasil pemikirannya yang terpenting dan terkenal hingga sekarang yakni The General Theory of Employment, Interest, and Money (Teori Umum mengenai Lowongan/Peluang Kerja, Bunga dan Uang).
Dalam bukunya itu diungkapkan bahwa penghasilan dan peluang/ lowongan kerja itu ditentukan oleh jumlah pengeluaran swasta dan negara. Pendapat ini dinilai para ahli ekonomi dunia sebagai suatu penyimpangan dan tradisi Neo-Klasik dan akhirnya menciptakan mazhab baru, mazhab ekonomi modern yang biasa dikenal dengan sebutan mazbab Keynes.
Selain buku-bukunya itu, Keynes juga menerbitklan buku hasil pemikirannya berjudul How to Pay for the War. Dalam bukunya itu Keynes mengutarakan suatu cara untuk menghindari terjadinya inflasi pada zaman perang yakni dengan jalan tabungan paksa atau tabungan penangguhan.
Pengaruh segala pemikiran Keynes sangat terasa di dalam pembuatan anggaran pada zaman perang Inggris.
Pada tahun 1941 Keynes diangkat menjadi direktur Bank of England (Bank Sentral Inggris) dan pada tahun 1942 Ia menjadi The First Baron Keynes of Tilton, yakni suatu gelar kerajaan yang sangat terhormat berkat sumbangan pikirannya yang sangat besar itu.
John Maynard Keynes, 1883-1946.
Keynes juga pernah memimpin delegasi Inggris ke Konferensi Moneter dan Keuangan PBB di Bretton Woods, Anierika pada bulan Juli 1944. Dan konferensi itu lahirlah apa yang dikenal dengan Dana Moneter International (International Monetary Fund/IMF) dan Bank Dunia (ZBRD yakni International Bank for Reconstruction and Development).
Keynes juga pernah menjadi perunding utama dari Anglo-American Loan (Kredit Inggris Amerika) pada tahun 1945.
Selain buku-bukunya yang telah disinggung di atas, ternyata masih banyak lagi karya pemikiran Keynes mengenai ekonomi dan keuangan. Seperti hasil pemikiran-pemikirannya yang berjudul Indian Currency and Finance (1913), A Treatise on Probability (1921), A Revision of Treaty (1922), A Tract on Monetaty Reform (1923), American ed., Monetary Reform (1924), a. Short View Of Russia (1925), The Economic Consequences of Mr Churchill (1925), The End Of Laissez Fair (1926), san Essays in Biography (1933).
Pendapat Keynes
Keynes berpendapat bahwa pengeluaran masyarakat untuk konsumsi dpengaruhi oleh pendapatan. Semakin tinggi tingkat pendapat mengakibatkan semakin tinggi pula tingkat konsumsi. Selain itu, pendapatan juga berpengaruh terhadap tabungan. Semakin tinggi pendapatan, semakin besar pula tabungannya karena tabungan merupakan bagian pendapatan yang tidak dikonsumsi. Walaupun pendapatan penting peranannya dalam menentukan konsumsi, peranan faktor-faktor lain tidak boleh diabaikan. Dibawah ini diterangkan beberapa faktor lain yang mempengaruhi tingkat konsumsi dan tabungan:
Kekayaan yang terkumpul
Sebagai akibat menapat harta warisan/tabungan yang banyak akibat usaha dimasa lalu, maka seseorang berhasil memiliki kekayaan yang mencukupi. Dalam keadaan seperti itu ia sudah tidak terdorong lagi untuk menabung lebih banyak.maka lebih besar bagian dari pendapatannya yang digunakan untuk konsumsi dimasa sekarang. Sebaliknya, untuk orang yang tidak memperoleh warisan mereka lebih bertekat untuk menabung yang lebih banyak di masa yang akan datang.
Tingkat bunga
Tingkat bunga dapatlah dipandang sebagai pendapatan yang diperoleh dari melakukan tabungan. Rumah tangga akan berbuat lebih banyak tabungan apabila tingkat bunga tinggi karena lebih banyak bunga yang akan diperoleh.
Sikap berhemat
Berbagai masyarakat mempunyai sikap yang berbeda dalam menabung dan berbelanja. Ada masyarakat yang tidak suka berbelanja berlebih-lebihan dan lebih mementingkan tabungan. Dalam masyarakat seperti itu APC dan MPCnya adalah lebih rendah tapi ada pula masyarakat yang mempunyai kecenderungan mengkonsumsi yang tinggi yang berdiri APC dan MPCnya adalah tinggi.
Keadaan Perekonomian
Dalam perekonomian yang tumbuh dengan teguh dan tidak banyak pengangguran masyarakat berkecenderungan melakukan perbelanjaan yang lebih aktif. Mereka mempunyai kecenderungan berbelanja lebih banyak pada masa kini dan kurang menabung. Tetapi dalam keadaan perekonomian yang lambat berkembangnya, tingkat pengangguran menunjukkan tendensi meningkat, dan sikap masyarakat dalam menggunakan uang dan pendapatnya makin berhati-hati.
Distribusi Pendapatan
Dalam masyarakat yang distribusi pendapatannya tidak merata, lebih banyak tabungan akan dapat diperoleh. Dengan masyarakat yang demikian sebagian besar pendapatan nasional dinikmati oleh sebagian kecil penduduk yang sangat kaya, dan golongan masyarakat ini mempunyai kecenderungan menabung yang tinggi. Maka mereka boleh menciptakan tabungan yang banyak. Segolongan besar penduduk mempunyai pendapatan yang hanya cukup membiayai konsumsi dan tabungannya adalah kecil. Dalam masyarakat yang distribusi pendapatannya lebih seimbang tingkat tabungannya relatif sedikit karena mereka mempunyai kecondongan mengkonsumsi yang tinggi.
Kamis, 12 November 2009
John Maynard Keynes
Diposting oleh dynkus di 20.47 0 komentar
Label: Tokoh Ekonomi
Jumat, 06 November 2009
Perumpamaan 4 Istri raja
Konon...
Ada seorang raja yang mempunyai 4 isteri.
Sang Raja selalu memberikan isteri keempatnya hadiah berupa pakaian-pakaian yang mahal dan makanan yang paling enak. Yang terbaik yang pernah ada di dunia.
Sang Raja juga sangat memuja isteri ketiganya. Ia selalu memamerkan istri ketiganya ke pejabat-pejabat kerajaan tetangga. Sang Raja takut suatu saat nanti, isteri ketiganya ini akan meninggalkannya.
Sang raja juga menyayangi isteri keduanya. Karena isterinya yang satu ini adalah tempat curahan hati raja. Istri keduanya selalu ramah, peduli dan sabar terhadap raja. Pada saat sang raja menghadapi suatu masalah, dia akan mengungkapkan isi hatinya hanya pada isterinya yang kedua karena sang istri kedua dapat membantunya melalui masa-masa sulit itu.
Isteri pertama Sang raja adalah pasangan yang sangat setia. Ia telah memberikan seluruh pikiran, hati, dan jiwa besarnya dalam pemeliharaan seluruh kekayaan alam dan sumber daya demi kelangsungan kerajaan. Karena giatnya bekerja, istri pertama raja ini kelihatan kurus dan tidak terurus. Meskipun sang isteri begitu mencintai rajanya, sang raja tidak peduli terhadap isteri pertamanya ini. Sulit bagi sang raja untuk memperhatikan isteri pertamanya itu.
Pada suatu hari, sang raja jatuh sakit dan dia menyadari bahwa kematiannya sudah dekat.
Sambil merenungi kehidupannya, sang raja lalu berpikir, "Saat ini aku memiliki 4 isteri disampingku, tapi ketika aku pergi, mungkin aku akan sendiri".
Sang raja memutuskan untuk bertanya kepada ke empat istrinya pertanyaan yang sama, yaitu apakah mereka akan menemani dan mengikutinya kemanapun ia pergi?
Istri keempatnya menjawab : "Tidak akan!", lalu ia pun pergi tanpa berkata-kata lagi.
Isteri ketiganya menjawab : "Tidak! Hidup ini begitu indah! Saat kau meninggal, akupun akan menikah kembali!"
Isteri keduanya menjawab : "Maafkan aku, untuk kali ini aku tidak bisa memenuhi permintaaanmu! Yang bisa aku lakukan, hanyalah ikut menemanimu menuju pemakamanmu. "
Sang Raja menjadi hambar dan wajahnya membeku, hatinya hancur berkeping-keping. Ia sangat mencintai ketiga istrinya! Ia memberikan yang terbaik kepada istri-istrinya itu, akan tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang bersedia menemaninya pergi meninggalkan dunia ini.
Tiba-tiba, sebuah suara berkata: "Aku akan bersamamu dan menemanimu kemanapun kau pergi."
Sang raja menolehkan kepalanya mencari-cari siapa yang berbicara. Dan terlihatlah olehnya isteri pertamanya. Dia kelihatan begitu kurus, seperti menderita kekurangan gizi.
Dengan penyesalan yang sangat mendalam kesedihan yang amat sangat, sang raja berkata sendu, "Seharusnya aku lebih memperhatikanmu saat aku masih punya banyakkesempatan! "
............ ......... ......... .
Refleksi:
Dalam realitanya, sesungguhnya kita semua mempunyai '4 isteri' dalam hidup kita....
'Isteri keempat' kita adalah tubuh kita. Tidak peduli berapa banyak waktu dan usaha yang kita habiskan untuk membuatnya terlihat bagus, tetap saja dia akan meninggalkan kita saat kita meninggal.
Kemudian 'Isteri ketiga' kita adalah ambisi, kedudukan dan kekayaan kita.
Saat kita meninggal, semua itu pasti akan jatuh ke tangan orang lain.
Sedangkan 'isteri kedua' kita adalah keluarga dan teman-teman kita. Tak peduli berapa lama waktu yang sudah dihabiskan bersama kita, tetap saja mereka hanya bisa menemani dan mengiringi kita hingga ke pemakaman.
Dan, 'isteri pertama' kita adalah jiwa, roh, iman kita, yang sering terabaikan karena sibuk memburu kekayaan, kekuasaan, dan kepuasan nafsu. Padahal, jiwa, roh, atau iman inilah yang akan mengikuti kita kemanapun kita pergi. Jadi perhatikan, tanamkan dan simpan baik-baik dalam hatimu sekarang! Hanya inilah hal terbaik yang bisa kau tunjukkan pada dunia.
God bless all
Apa yang kita lakukan untuk diri kita sendiri, akan mati bersama kita;
Apa yang kita lakukan untuk orang lain dan dunia tetap akan kekal dan abadi.
Oleh: Albert Pines
Diposting oleh dynkus di 18.40 0 komentar
Label: Renungan
Selasa, 03 November 2009
Dosa Metropolitan
oleh : Widi Yarmanto | widi@gatra.com
[Perspektif, Gatra Nomor 35 Beredar Kamis, 13 Juli 2006]
Judul itu saya “pungut” dari Dokter Tan Shot Yen.
Suatu siang, di Bumi Serpong Damai, Tangerang, tempat
praktek dia, sepasang oma-opa berobat. Oma tersebut
stroke, jalannya tertatih-tatih. Ia mengeluh perut
mual kalau makan.
Kontan Dokter Yen menyimpulkan, pasti makan
sembarangan. “Buang makanan sampah itu,” katanya. Buat
apa dikonsumsi kalau cuma jadi penyakit. Jangan makan
nasi, terigu, kacang-kacangan, umbi-umbian, gula,
pemanis buatan, kecap, dan saus. Ganti daging merah
dengan daging ayam atau ikan.
Dari makanan, Yen menyoal perawatan. “Mana anak Oma,”
tanyanya. “Bekerja di luar kota,” ujar si Oma. Jawaban
itu kontan mengaduk-aduk emosi dokter wanita yang
energik tersebut. “Kalau ada pasien begini 10 saja,
dokternya bisa mati duluan,” kata dia lantang.
Lalu ia meminta agar si anak disuruh bekerja di
Jakarta saja. Buat apa mencari duit banyak kalau
orangtua ditelantarkan. “Itu namanya ‘dosa
metropolitan’. Keliru! Masak anak butuhnya kalau mau
nikah supaya direstui. Orangtua hanya dipajang untuk
menerima tamu,” kata Yen.
Oma itu diam, tapi air matanya mengalir. Sebagai
lansia, mungkin dia merasa yang tersisa cuma
“menghitung hari tua”. Toh disalahkan pula. Lansia itu
identik dengan sakit-sakitan, tak produktif, plus
kesepian. Tiada anak yang merawat, tiada kawan berbagi
rasa. Ia tenggelam dalam kesedihan.
Terlebih kala Dokter Yen mengatakan bahwa anak
“produk” metropolitan selalu merasa diri telah
berbakti. Telah memenuhi kebutuhan makan dan sandang
orangtua secara sempurna. Sopir tersedia, bisa
mengantar ke mana saja. Memang, siang itu, pasangan
oma-opa tadi ditemani seorang sopir. Salah besar!
“Tahu nggak, sih, anak yang berbakti pada orangtua
tidak akan jauh dari rezeki. Ada saja rezeki dari
Tuhan. Hidupnya dilapangkan,” kata Dokter Yen, yang
ruang prakteknya terbuka sehingga puluhan pasien lain
bisa nguping “kuliah”-nya. “Suruh dia kemari, biar
saya ceramahin,” ia melanjutkan.
Omongan Yen benar walau pedas. Bisa jadi, kita memang
acap menciptakan “dosa metropolitan” tanpa sadar. Kita
kurang berkorban pada orangtua, pada lingkungan.
Kebaikan itu seolah tertutup oleh ribuan selubung.
Kita memburu duit karena khawatir pada masa depan yang
belum pasti.
Buntutnya, semua dikalkulasi secara materi. Mau
berbuat baik pun ditindas oleh diri sendiri: “Ngapain
repot-repot.” Bukannya di-support: “Kan, bisa
mengurangi beban orang lain. Mengikis pementingan diri
secara arif.” Bukankah ustad sering bilang: “Derajat
paling tinggi dalam kedermawanan adalah mengutamakan
orang lain.”
Tampaknya istilah “tidak ada makan siang yang gratis”
benar-benar mengerosi hingga memiskinkan rasa. Apalagi
ditambahi pemahaman bahwa orang lansia itu punya dunia
tersendiri yang sulit diikuti. Lansia dipenuhi kesan
yang tak mengenakkan dan sukar dilupakan.
Maka, khususnya pada orang Cina, tulis Yoseph Tulus
Swandjaja, 83 tahun, dalam Tetralogi Kehidupan Lansia,
Catatan Harian Nonitje, mereka sering disebut bo taw
lo –diucapkan dalam nada agak merendahkan, bahkan
menghina– yang berarti tidak punya kegiatan, tidak
punya penghasilan, dan identik dengan malas.
Jika “dosa metropolitan” dan bo taw lo itu dipadukan,
seakan klop. Beberapa hari lalu, tetangga saya yang
tinggal di rumah petak kontrakan dihebohkan oleh bau
tak sedap. “Kayak bau bangkai tikus,” ujar seseorang.
Tetangga lain berucap: “Kayak septic tank.” Sumber bau, busuk itu tak ketemu.
Belakangan ada yang curiga, karena rumah petak yang
dihuni seorang wanita tua itu pintunya tertutup empat
hari. Pintu diketuk, tiada sahutan. Terpaksa didobrak.
Benar, wanita itu telah meninggal tanpa ketahuan siapa
pun. Sanak familinya tak jelas. Ya, semua orang bak
dikejar derap metropolitan.
“Dosa metropolitan” lain adalah “membuang” uang receh
di jalanan. Secara tak langsung kita telah
menjerumuskan anak jalanan di Jabotabek ke dalam
jurang ketidakberdayaan. Berdasar data Komisi
Perlindungan Anak, jumlah anak jalanan di Jabotabek
mencapai 75.000.
Mereka, hanya dengan menengadahkan tangan,
menepuk-nepuk kedua tangan, atau menyapukan kemoceng
di kaca mobil, memperoleh pendapatan per hari Rp
20.000-Rp 30.000 tiap anak. Beda tipis dengan gaji
lulusan diploma. Jika angka Rp 20.000 dikalikan
75.000, diperoleh angka Rp 1,5 milyar per hari. Luar
biasa.
Begitu mudah mereka mendapat duit. Bisa jadi, kitalah
yang membetahkan mereka di jalanan. Penelitian oleh
sejumlah LSM menyebutkan, uang hasil anak-anak
marjinal itu sebagian tidak dipakai untuk mendukung
peningkatan kesejahteraan mereka. Untuk apa?
Dipakai jajan berada di peringkat pertama. Main
dingdong atau main elektronik lain di urutan kedua.
Dan terakhir disetor ke orangtua atau inang/senior
sebagai pelindung mereka di jalanan. Bahkan, berdasar
obrolan warung kopi, anak-anak usia belasan tahun itu
mulai mengonsumsi narkoba. Cilaka!
Maka, tak berlebihan jika salah satu program Unicef
adalah: hentikan memberi uang kepada anak-anak
jalanan! Kita harus berhenti memanjakan mereka.
Apalagi, beberapa anak mulai tererosi perilaku buruk:
sorot mata sinis, mulut mengumpat, dan mulai ada unsur
memaksakan kehendak. Tak mustahil bakal mengancam.
Sebuah e-mail dari Sahabat Anak menawarkan solusi:
berikan mereka nutrisi bergizi! Mulai sekarang,
sediakan dalam tas atau mobil Anda: biskuit, permen,
buah, susu kotak, yang langsung bisa diberikan begitu
tangan-tangan kecil itu menengadah. Kita bisa menjadi
sahabat anak tiap saat.
Ya, kita harus jadi penerang bagi orang-orang yang
berjalan dalam kegelapan. Kita harus memiliki sikap
yang benar dalam kehidupan –kalau ingin maju– tanpa
menyalahkan siapa pun. Tiap orang pasti punya sisi
yang dapat dicela.
Diposting oleh dynkus di 19.02 0 komentar
Label: Realita
