
AMBIL DISINI
Selasa, 29 September 2009
Ikatkan Sehelai Pita Kuning Bagiku......
If GOD Always Forgives you,
Will you forgive the others........
Ikatkan Sehelai Pita Kuning Bagiku......
Pada tahun 1971 surat kabar New York Post menulis kisah nyata tentang seorang pria yang hidup di sebuah kota kecil di White Oak,,Georgia,
Amerika. Pria ini menikahi seorang wanita yang cantik dan baik,sayangnya dia tidak pernah menghargai istrinya. Dia tidak menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Dia sering pulang malam-malam dalam keadaan mabuk, lalu memukuli anak dan isterinya.
Satu malam dia memutuskan untuk mengadu nasib ke kota besar, New York.Dia mencuri uang tabungan isterinya, lalu dia naik bis menuju ke utara,
ke kota besar, ke kehidupan yang baru. Bersama-sama beberapa temannya dia memulai bisnis baru. Untuk beberapa saat dia menikmati hidupnya.
Sex, gambling, drug. Dia menikmati semuanya. Bulan berlalu. Tahun berlalu. Bisnisnya gagal, dan ia mulai kekurangan uang.
Lalu dia mulai
terlibat dalam perbuatan kriminal. Ia menulis cek palsu dan menggunakannya untuk menipu uang orang. Akhirnya pada suatu saat naas,
dia tertangkap. Polisi menjebloskannya ke dalam penjara, dan pengadilan menghukum dia tiga tahun penjara. Menjelang akhir masa penjaranya, dia
mulai merindukan rumahnya. Dia merindukan istrinya. Dia rindu keluarganya. Akhirnya dia memutuskan untuk menulis surat kepada
istrinya, untuk menceritakan betapa menyesalnya dia. Bahwa dia masih mencintai isteri dan anak-anaknya. Dia berharap dia masih boleh kembali.
Namun dia juga mengerti bahwa mungkin sekarang sudah terlambat, oleh karena itu ia mengakhiri suratnya dengan menulis, "Sayang, engkau tidak
perlu menunggu aku. Namun jika engkau masih ada perasaan padaku, maukah kau nyatakan? Jika kau masih mau aku kembali padamu, ikatkanlah sehelai
pita kuning bagiku, pada satu-satunya pohon beringin yang berada di pusat kota. Apabila aku lewat dan tidak menemukan sehelai pita kuning,
tidak apa-apa. Aku akan tahu dan mengerti. Aku tidak akan turun dari bis, dan akan terus menuju Miami. Dan aku berjanji aku tidak akan pernah
lagi menganggu engkau dan anak-anak seumur hidupku." Akhirnya hari pelepasannya tiba. Dia sangat gelisah. Dia tidak menerima surat balasan
dari isterinya. Dia tidak tahu apakah isterinya menerima suratnya atau sekalipun dia membaca suratnya, apakah dia mau mengampuninya? Dia naik
bis menuju Miami, Florida, yang melewati kampung halamannya, White Oak. Dia sangat sangat gugup. Seisi bis mendengar ceritanya, dan mereka
meminta kepada sopir bus itu, "Tolong, pas lewat White Oak, jalan pelan-pelan. ..kita mesti lihat apa yang akan terjadi..." Hatinya
berdebar-debar saat bis mendekati pusat kota White Oak. Dia tidak berani mengangkat kepalanya.
Keringat dingin mengucur deras. Akhirnya dia melihat pohon itu. Air mata menetes di matanya... Dia tidak melihat sehelai pita kuning... Tidak ada
sehelai pita kuning.... Tidak ada sehelai..... . Melainkan ada seratus helai pita-pita kuning....bergantun gan di pohon beringin
itu...Ooh... seluruh pohon itu dipenuhi pita kuning...!!! !!!!!!!!! Kisah nyata ini menjadi lagu hits nomor satu pada tahun 1973 di Amerika. Sang
sopir langsung menelpon surat kabar dan menceritakan kisah ini. Seorang penulis lagu menuliskan kisah ini menjadi lagu, "Tie a Yellow Ribbon
Around the Old Oak Tree", dan ketika album ini di-rilis pada bulan Februari 1973, langsung menjadi hits pada bulan April 1973. Sebuah lagu
yang manis, namun mungkin masih jauh lebih manis jika kita bisa melakukan apa yang ditorehkan lagu tersebut,...
Isteri, Pacar dan Sobat yang baik....
Apakah anda juga bisa memaafkan bagi orang2 yang telah berbuat salah kepada anda?.... isteri si pemabuk itu telah memberikan begitu besar
kesetiaannya dan mau memaafkan suaminya.
If GOD Always Forgives you,
Will you forgive the others ?.... think wisely..
Diposting oleh dynkus di 18.51 0 komentar
Label: Realita
Senin, 28 September 2009
APAKAH ANDA SEDANG TERJATUH ???
> Dr. Lin Ting Tung adalah
> orang
> Taiwan pertama yang menjadi dokter dan menjadi kristen, Ini
> terjadi pada akhir abad ke-19. Ia bekerja di rumah sakit
> kecil yang dirintis oleh Dr. Maxwell, seorang misionaris
> Inggris.
> Ketika itu tingkat
> kesehatan masyarakat di Taiwan sangat rendah dan cara
> pengobatan masih sangat sederhana.
> Pada suatu hari seorang anak
> datang ke rumah sakit itu dan meminta obat untuk ibunya yang
> sedang demam akibat malaria. Anak ini berjalan lebih dari
> dua jam dari desanya ke rumah sakit melalui jalan setapak
> melewati hutan dan sawah. Ketika nama ibunya dipanggil, anak
> ini langsung bangkit dari bangkunya, meraih botol obat dan
> bergegas pulang.
>
> Sore harinya pukul lima ,
> ketika kamar obat akan ditutup, seorang perawat tampak
> bingung dan berbisik, "Dokter Lin, botol obat untuk
> pasien malaria masih ada disini. Tetapi ada satu botol yang
> hilang. Isinya disinfektan.
> Dr. Lin terkejut,
> diperiksanya botol yang tertinggal, benar isinya obat
> malaria. Jadi, anak tadi membawa botol yang salah!
> Botol-botol dikamar obat itu memang berbentuk sama dan
> berwarna sama lagipula, baik obat malaria maupun disinfektan
> sama-sama cairan.
> "Celaka kita. ibu itu
> bisa mati. Disinfektan itu obat keras pembunuh kuman untuk
> kamar operasi. Kalau sampai diminum, usus bisa terbakar dan
> orang itu akan mati" ujar Dr. Lin dengan wajah pucat.
> Segera mereka melaporkan peristiwa ini kepada Dr. Maxwell.
> Ia juga terkejut. "Sekarang pukul lima, anak itu pergi
> dari sini pukul tiga jadi Ia sudah hampir tiba. Tidak
> mungkin kita mengejarnya. Kita tidak tahu jalan kedesa
> itu" ujar Dr. Maxwell.
>
> Dr. Maxwell termenung. lalu
> ia berkata, "Mulai hari ini semua obat keras tidak
> boleh diletakkan diatas meja. Sekarang panggil semua
> karyawan untuk berkumpul. Kita akan berdo'a,"
> Begitulah semua orang yang bekerja di rumah sakit itu
> berkumpul dan berdo'a. Dr. maxwell berdo'a,
> "Tuhan, telah kami membuat kecerobohan. Ampunilah
> kami. Nyawa seorang ibu sedang terancam. Tolonglah dia,
> cegahlah dia agar tidak meminum obat yang salah
> itu......"
> Malam harinya Dr. Lin
> berdinas malam. Ia harus bertanggung jawab atas kematian ibu
> ini. Esok harinya, ketika masih subuh pintu diketuk.
>
> Ternyata itu anak yang
> kemarin membawa botol yang keliru. Mukanya pucat ketakutan.
>
> Dr. Lin juga takut. Kedua
> orang itu berdiri saling memandang dengan gugup.
>
> Kemudian anak itu berkata,
> "Ma'af dokter. Kemarin saya bawa botol itu sambil
> berlari, lalu saya jatuh botol itu pecah dan isinya
> tumpah".
>
> Dr. Lin yang masih terpaku
> karena gugup langsung bertanya, " Kapan Jatuhnya?
> "
> Anak itu menjadi makin
> ketakutan, "Ma'af, dokter. Saya baru datang
> sekarang.
> Jatuhnya kemarin sore,
> menjelang gelap,"
> Dr. Lin langsung ingat:
> Menjelang gelap....itu adalah saat ketika semua karyawan
> rumah sakit berkumpul mendo'akan ibu anak ini! jiwa ibu
> anak ini tertolong, isi botol yang salah itu tidak sampai
> terminum, karena botol itu pecah ditengah jalan.
>
>
> Kita bisa lihat peristiwa
> ini dari sudut si anak. Ia pulang membawa botol obat ini
> sambil berlari. Ia ingin cepat-cepat memberikan obat ini
> kepada ibunya. Ia ingin menunjukan baktinya kepada ibunya.
> Ia ingin ibunya cepat sembuh.
> Anak ini tidak mengetahui
> bahwa botol yang sedang dipegangnya berisi racun.
>
> Ia tidak bisa membaca
> tulisan dibotol itu. Ia buta huruf Anak ini berlari terus.
> Jalan dari desa ke rumah sakit di kota sangat jauh. Perginya
> dua jam, pulangnya dua jam. Ia letih. Lalu, tiba-tiba ia
> tersandung. Ia jatuh.
> Mungkin Ia terluka, tetapi
> yang paling celaka: Botolnya jatuh dan pecah, cairan isinya
> tumpah ditanah. Bayangkan bagaimana perasaan anak itu. Ia
> kecewa, sedih dan takut. Bagaimana kalau penyakit ibunya
> makin parah.
>
> Bagaimana kalau dokter itu
> marah? Anak ini sangat terpukul oleh kejatuhan ini. Saat itu
> ia belum tahu bahwa justru terjatuhnya dia ini menolong
> nyawa ibunya. Mungkin orang lain akan tersenyum, "Ah,
> itu cuma kebetulan,"
> namun orang percaya akan
> bersaksi, " Tuhan bisa bekerja melalui sebuah
> kebetulan," itulah juga kesaksian Rasul Paulus di
> Roma
> 8:28 ....Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk
> mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi
> Dia......."
>
> "SEGALA SESUATU"
> berarti segala keadaan atau segala kejadian, baik berhasil
> maupun kejatuhan.
> Kejatuhan dapat berbentuk
> musibah, penyakit atau kegagalan.
>
> Seringkali kita mengira
> bahwa Allah hanya hadir dan bekerja dalam keberhasilan.
>
> Padahal Allah juga hadir dan
> bekerja dalam kejatuhan.
> Apa tujuan Allah bekerja
> dalam kejatuhan?
> Paulus menjawab,
> ".....untuk mendatangkan kebaikan.... .."
>
> Jadi Tuhan dapat
> mendatangkan kebaikan melalui sebuah kejatuhan.
>
>
> Copied
> by: Capt. Shadrach M. Nababan
Diposting oleh dynkus di 19.30 0 komentar
Label: Realita
Minggu, 27 September 2009
Busuknya Kebencian
Seorang Ibu Guru taman kanak-kanak ( TK ) mengadakan "permainan". Ibu
Guru menyuruh tiap-tiap muridnya membawa kantong plastik transparan 1
buah dan kentang. Masing-masing kentang tersebut diberi nama
berdasarkan nama orang yang dibenci, sehingga jumlah kentangnya tidak
ditentukan berapa ... tergantung jumlah orang-orang yang dibenci.
Pada hari yang disepakati masing-masing murid membawa kentang dalam
kantong plastik. Ada yang berjumlah 2, ada yang 3 bahkan ada yang 5.
Seperti perintah guru mereka tiap-tiap kentang diberi nama sesuai nama
orang yang dibenci. Murid-murid harus membawa kantong plastik berisi
kentang tersebut kemana saja mereka pergi, bahkan ke toilet sekalipun,
selama 1 minggu.
Hari berganti hari, kentang-kentang pun mulai membusuk, murid-murid
mulai mengeluh, apalagi yang membawa 5 buah kentang, selain berat
baunya juga tidak sedap.
Setelah 1 minggu murid-murid TK tersebut merasa lega karena
penderitaan mereka akan segera berakhir.
Ibu Guru : "Bagaimana rasanya membawa kentang selama 1 minggu ?"
Keluarlah keluhan dari murid-murid TK tersebut, pada umumnya mereka
tidak merasa nyaman harus membawa kentang-kentang busuk tersebut ke
manapun mereka pergi.
Guru pun menjelaskan apa arti dari "permainan" yang mereka lakukan.
Ibu Guru : "Seperti itulah kebencian yang selalu kita bawa-bawa
apabila kita tidak bisa memaafkan orang lain. Sungguh sangat tidak
menyenangkan membawa kentang busuk kemana pun kita pergi. Itu hanya 1
minggu. Bagaimana jika kita membawa kebencian itu seumur hidup ?
Alangkah tidak nyamannya ..."
(Author : Unknown)
"when life gives you 100 reasons to cry
show life that you have 1000 reasons to smile..
Face your past without regret..
Handle your present with confidence..
Prepare for future without fear"
Diposting oleh dynkus di 19.41 0 komentar
Label: Renungan